Rosululloh menengok anak itu dan memandangnya dengan pandanga takjub dan simpati. Beliau menepuk-nepuk anak itu, akan tetapi beliau menolak anak itu karena usianya yang masih sangat muda.
Anak itu pulang dengan membawa pedangnya. Ia bersedih hati. Dari kejauhan ibunya, Nuwar binti Malik mengikutinya, iapun ikut bersedih hati, karena buah hatinya belum bisa ikut berperang bersama Rosululloh saw.
Meskipun anak kecil itu tidak bisa ikut berperang. Ia tidak berputus asa untuk bisa mengabdikan dirinya disamping Rosululloh. Ia anak yang cerdas dan pintar. Ia memikirkan jalan lain yang tidak ada hubungannya dengan usia. Pikirannya tajam, iapun menemukan jalan itu yaitu dengan melalui bidang ilmu dan hafalan. Anak itu adalah Zaid Bin Tsabit.
Ia menyampaikan pikirannya itu kepada ibunya. Ibunyapun menyetujuinya. Nuwar memberi tahu beberapa familinya tentang keinginan anaknya. Lalu mereka pergi menemui Rosululloh saw.
Mereka berkata, ”Wahai Rosululloh, ini anak kami. Dia hafal tujuh belas surat dari Al Qur’an. Bacaannya betul, sesuai yang diturunkan Allah kepada anda. Disamping itu dia pandai pula membaca dan menulis Arab. Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin berbakti kepada anda dengan ketrampilan yang ada padanya, dan ingin pula mendampingi anda selalu. Jika anda menghendaki silahkan anda mendengarkan bacaannya.”
Rosululloh mendengarkan bacaannya anak itu. Ternyata bacaannya memang bagus, betul dan fasih. Kalimat-kalimat Al Qur’an berkerlap kerlip di bibirnya seperti bintang gemintang di langit. Bacaannya berkesan. Rosululloh bergembira, ternyata kepandaian anak itu melebihi dari apa yang didengarnya. Selain itu anak itu juga panda membaca dan menulis. Rosululloh berkata kepadanya, ”Jika engkau mau selalu dekat denganku, pelajarilah baca tulis ibrani. Saya tidak percaya kepada orang Yahudi yang menguasai bahasa tersebut, bila mereka saya diktekan sebagai sekretaris saya.”
Anak itu menyanggupi. Ia tekun mempelajarinya hingga ia pandai dan menguasai bahasa Ibrani. Kemudian iapun mempelajari bahasa Suryani. Iapun dapat mempelajari dan menguasai bahasa tersebut dalam tempo yang singkat. Dan sejak usianya masih muda itu ia dijadikan oleh Rosululloh sebagai penterjemah kedua bahasa itu. Dia lah yang beruntung menjadi sekretaris pribadi Rosululloh, Zaid Bin Tsabit.
Ia tidak hanya terampil sebagai penterjemah, tapi juga sebagai penulis wahyu. Bila wahyu turun, Rosululloh memanggil Zaid, lalu dibacakannya dan disuruhnya ia menulis. Karena itu Zaid bin Tsabit menulis Al Qu’ran didiktekan langsung oleh Rosululloh secara bertahap sesuai dengan turunnya ayat.
Akibatnya ia menjadi orang pertama tempat umat islam bertanya tentang Al Qur’an setelah Rosululloh wafat. Dia menjadi ketua kelompok yang ditugaskan menghimpun Al Qur’an pada masa pemerintahan Abu Bakar Shiddiq. Kemudian ia pula yang menjadi ketua tim penyusun mushaf di jaman pemerintahan Usman bin Affan.
Keutamaan Zaid bin Tsabit yang lainnya, dia pernah memberikan jalan keluar dari jalan buntu yang membingungkan orang-orang pandai pada hari Saqifah. Kaum muslimin berbeda pendapat tentang pengganti (khalifah) Rosululloh sesudah beliau wafat.
Keunggulan dan kedalaman pengertian Zaid bin Tsabit mengenai Al Qur’an telah mengangkatnya menjadi penasehat kaum muslimin. Para khalifah senantiasa bermusyawarah dengan Zaid dalam perkara-perkara sulit, dan selalu meminta fatwa beliau tentang hal-hal yang musykil. Terutama tentang hukum warisan.
Subhanalloh ya, semoga kita bisa meneladaninya... amin
referensi : 101 Sahabat Nabi; Bastoni, Hepi Andi
sumber gambar : kompasiana.com



29 Desember 2011 14:05
apakah semua wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, semuanya di tulis oleh zaid Bin Tsabit...terima kasih
Poskan Komentar