TopMenu

Artikel Populer

Artikel Populer

Pemuda Yang Hebat

Dulu ketika kelas dua SMA, saya sering mendengarkan ceramah dari salah satu stasiun radio di Bandung. Sementara itu saya tinggal di Sukabumi. Ceramahnya diselenggarakan tiap malam jum’at selepas isya.
Suatu ketika penceramah menanyai salah seoarang jamaah yang hadir di pengajiannya. Pemuda ini tangan dan kakinya lumpuh. Bicaranya tidak lancar dan matanya tidak bisa melihat. Untuk hadir di pengajian, dia mengeluarkan uang yang cukup banyak. Untuk mengangkat dirinya ke taksi dia membayar orang kurang lebih Rp 5.000,- . kemudian dia harus membayar supir taksi kurang lebih Rp 20.000,-. Setelah itu diapun harus membayar orang untuk mengangkatnya sampai duduk di ruangan mesjid. Jadi setidaknya dia harus mengeluarkan uang kurang lebih Rp 30.000,-.


Pemuda ini hanya tinggal berdua dengan ibunya yang sudah tua dan tidak bekerja. Untuk membiayai hidup dia dan ibunya serta untuk ongkos ke pengajian, dia berjualan kecil-kecilan di depan rumahnya.

Sahabat, saat itu air mata saya menetes mendengar suara pemuda ini menuturkan sendiri kondisinya dengan terbata-bata. Dia dengan kondisi fisik yang terbatas mempunyai semangat yang hebat untuk hadir di majelis ilmu. Jarak yang jauh tidak menjadi halangan, mata yang tidak bisa melihat tidak menjadi halangan, kaki yang tidak mampu berjalan bahkan dengan bantuan tongkatpun dia tidak mampu berjalan tidak menjadi halangan.

Sementara saya dianugerahi Allah SWT fisik yang sempurna, kedua mata yang bisa melihat, kedua kaki yang mampu berjalan. Akan tetapi semangat untuk mencari ilmu sangat tipis, bahkan untuk hadir di pengajian yang jaraknya hanya dua rumahpun kaki ini terasa berat melangkah. Lalu apakah arti syukur? Tidakkah sikap saya itu bagian dari rasa tidak bersyukur kepada Allah SWT?

Ya Allah ampuni hamba yang menyia-nyiakan ni’mat yang telah engkau berikan. Sungguh ni’matmu tidak terhitung. Engkaulah yang membuatku bisa melihat daun yang hijau, membuat telingaku bisa mendengar burung yang berkicau, membuat kakiku bisa berjalan dan berlari. Engkaulah yang mengalirkan darah ditubuhku tiada henti, mendetakkan jantungku setiap detik, menjagaku ketika aku sedang tidur, memberiku makan ketika sedang lapar.

Ya Allah engkaulah yang menurunkan air hujan dari langit, yang menutupkan malam terhadap siang dan menutupkan siang terhadap malam, engkaulah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, engkaulah yang menaburkan bintang gemintang diangkasa, yang meninggikan gunung-gunung, yang menghamparkan lautan. Ya Allah engkaulah yang begini dan begitu, sungguh aku tidak sanggup menyebut satu persatu karena keterbatasan ilmuku.

Wahai pemuda terima kasih telah mengajarkan saya arti bersyukur dan pentingnya ilmu. Semoga Allah meninggikan derajatmu di dunia dan akhirat, Amin.



Poskan Komentar